Laman

Selasa, 26 Juli 2016

Anak Dan Harapan Semua Kita

Islam memandang anak sebagai amanah dari Allah. Islam juga memperingatkan bahwa anak bisa menjadi cobaan dan musuh bagi orang tua. Adalah tugas dan tanggung jawab orang tua untuk mendidik anak sehingga menjadi anak yang sholeh dan bukan sebaliknya.

Dalam agama Kristen anak dianggap sebagai tanda berkat dari Allah. Anak dalam Perjanjian Lama dikatakan lahir dalam keadaan kudus. Disebutkan juga dalam Al Kitab bahwa Allah telah menyediakan puji-pujian di dalam hati anak-anak.

Jumat, 15 Juli 2016

Selamat Tinggal Tradisi Penistaan Siswa Baru!

Tradisi perpeloncoan sudah lama berlangsung di dunia Pendidikan kita. Perpeloncoan terjadi dalam kegiatan resmi dengan nama MOS (Masa Orientasi Siswa) bagi siswa baru. Ironi memang kegiatan yang sebenarnya adalah ajang pengenalan siswa baru pada lingkungan dan warga sekolah ternyata dengan sadar disisipi praktik-praktik yang jauh dari nilai edukatif.

Praktik perpeloncoan sering dilakukan oleh siswa senior yang dilibatkan dalam kegiatan MOS. Para siswa senior beralasan praktik-praktik seperti itu dilakukan untuk menciptakan suasana akrab antara senior dengan yunior. Meski sering mendapat kritik dan koreksi terhadap praktik perpeloncoan ini namun pihak sekolah seperti tidak pernah menggubris.

Minggu, 03 Juli 2016

Merawat Ruh Berkesenian Di Daerah

 (Jatirogo Nggambar Bareng 2016)

Seni itu ibarat udara. Ia bisa merasuk di berbagai kegiatan manusia dari yang bernuansa lembut sampai yang bernuansa keras. Ada seni membaca kitab suci, seni membatik, Seni memahat, seni diplomasi, seni beladiri, seni perang bahkan seni menghormati jenasah (upacara ngaben). Seni adalah senjata politik yang ampuh. Dalam pergolakan di tahun enampulahan menunjukkan bagaimana seni berfungsi sebagai alat propaganda, provokasi dan agitasi bagi golongan-golongan politik yang bertikai.


Seni juga selalu menempel pada kehidupan orang-orang hebat. Albert Einstein ilmuwan kesohor adalah orang yang dekat dengan dunia musik. Ir. Soekarno bapak bangsa dan politisi ulung adalah pecinta seni dan seorang pelukis. Muh. Hatta tokoh Pergerakan Nasional dan proklamator adalah seorang yang paham seni.

Jumat, 17 Juni 2016

MASJID LASEM MONUMEN KEBHINEKAAN JAWA

Kadipaten Lasem dipimpin Pr. Tejakusuma I mulai tahun 1507 Saka atau 1585 Masehi.  Pangeran Tejakusuma I diangkat sebagai adipati Lasem oleh Sultan Pajang yang sekaligus adalah ayah mertuanya sendiri. Jika ditelisik silsilahnya, para leluhur Pr. Tejakusuma I adalah penguasa atau setidaknya orang penting Kadipaten Lasem. Leluhur Pr. Tejakusuma I yang pertama memimpin Lasem adalah Dewi Indu saudara sepupu dari Prabu Hayamwuruk di Majapahit.

Pada tahun 1588 Masehi Pr. Tejakusuma I membangun pendapa Kadipaten Lasem yang baru di daerah Soditan. Pada saat yang sama Pr. Tejakusuma I membangun masjid Lasem. Kisah pembangunan pendapa Kadipaten baru dan Masjid tersebut tertuang dalam Carita Lasem : “ Panjenengane yasa dalem Kadipaten Lasem kang anyar aneng bumi Sadita, ing salore dalan gedhe madhep mangidul, wetan prapatan, ngadhepake alun-alun; dhek nalika tahun Syaka 1510 sasi Caitra, dina Buda Manis. Lan bebarengan trep dina kuwi, aneng sakulone alun-alun digawekke mesjid...”

Minggu, 29 Mei 2016

Menakar Tradisi Intelektual Siswa Kita

Dalam Agama Islam wahyu yang turun pertama berbunyi “bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu”. Wahyu ini memberi nuansa pentingnya aspek intelektual dalam kehidupan berkeyakinan. Dalam Agama Kristen disebutkan “Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia”. Dengan demikian Yesus memperoleh kebijaksanaan lewat proses belajar (kerja intelektual) meski Ia diyakini sebagai  Anak (pengejawantahan Sabda dan kuasa) Tuhan.

Dalam budaya Jawa ada tembang pucung yang mengatakan bahwa : “ngelmu iku tinemune kanthi laku” Jadi dalam tradisi intelektual Jawa ilmu pengetahuan akan dapat dipahami dan menjadi bermakna jika ada proses empiris. Ilmu bukan diperoleh dengan membaca kemudian dihafal, mendengar kemudian dihafal, tetapi ada proses mengamati, menanya, mengumpulkan data, mengasosiasi dan menyimpulkan bahkan menguji kembali simpulan.

Lalu apa hubungan semua ini dengan judul diatas? Tradisi intelektual adalah roh dari peradaban manusia. Tradisi intelektual menjadi dasar dalam dunia religius maupun dalam dunia ilmu pengetahuan. Dalam dunia pendidikan tradisi intelektual diwujudkan dalam pembelajaran yang berbasis saintifik yang meliputi : mengamati, mertannya, mengumpulkan data, mengasosiasi dan mengkomunikasikan.

Ada beberapa pertanyaan menarik terkait intelektualitas siswa-siswi kita. Sudahkah dunia pendidikan berhasil menanamkan tradisi intelektual pada diri para siswa? Sejauhmana tradisi intelektual sudah tumbuh dan diimplementasikan oleh anak didik kita?

Untuk menjawab pertanyaan di atas cukup kita mengamati kebiasaan siswa-siswi kita. Apakah mereka sudah menjadi pembaca yang baik? Apakah mereka sudah menjadi penulis yang handal? Apakah mereka sudah menjadi pendiskusi yang kritis. Apakah mereka sudah menjadi kreator yang kreatif? Apakah mereka sudah beretika (beradab)?


Jika tradisi intelektual sudah tumbuh baik pada diri remaja kita maka tak akan muncul kejadian yang memalukan seperti ini! Berprilaku bodoh, tidak tahu etika, konyol dan kekanak-kanakan.

                                                                           bodoh

                                                                     tak tahu etika

                                                                     kekanak-kanakan

Sabtu, 21 Mei 2016

Saminisme Dan Budhisme Kagok Ngaringan Grobogan

Gerakan Islamisasi di tanah Jawa oleh para Wali ternyata tidak menjadikan semua penganut keyakinan lama beralih ke agama Islam. Sampai sekarang ini kita masih bisa menjumpai komunitas suku asli Jawa yang memeluk agama Budha. Bahkan dibeberapa desa masih ada pemeluk agama Budha dengan jumlah yang mayoritas. Daerah dengan jumlah pribumi penganut Budha yang cukup banyak diantaranya Kragan, Lasem, Blora, Juwana, Pati, Jepara dan Grobogan.

Vihara Kagok tampak depan

Jumat, 06 Mei 2016

Pengaruh Champa Pada Budaya Jawa

Sebagian besar orang Jawa menghubungkan Champa dengan Islamisasi di tanah Jawa, padahal sebenarnya pengaruh Champa tidak hanya sebagai bagian dari penyebaran Agama Islam di Jawa saja. Champa memberi pengaruh cukup kuat dan luas dalam sejarah dan budaya Jawa. Sejarah mencatat orang Champa perantauan banyak yang ikut dalam pemberontakan melawan Penjajah Belanda pada tahun 1700-an.

Ketika Laksamana Cheng Ho melakukan ekspidisi di Jawa, kabar tentang kesuburan tanah Jawa menarik orang-orang Champa untuk tinggal di Jawa. Ada dua kelompok orang Champa yang hijrah ke Jawa. Kelompok yang hijrah pada masa awal umumnya adalah orang Champa dengan budaya agraris dan memeluk agama Budha (memuja Avalokitesvara). Kelompok yang hijrah ke Jawa pada masa-masa berikutnya adalah orang Champa pedagang yang beragama Islam.